08. Warisan Sang Kakek

Macan kumbang itu duduk di pojok ruangan, menghalangi jalan masuk. Tubunya tegap, tinggi, setinggi pintu. Matanya terang menyala, tampak kontras dengan hitam legam warna tubuhnya. Entah dari mana datangnya, namun sang macan tampak bersiaga menunggu titah sang majikan. Matanya menatap tajam, mulutnya menyeringai, namun belum terdengar auman dahsyatnya.

Sang majikan tengah berteriak lantang. Sambil mengacung-acungkan kepal tangannya, dia meradang, menerjang, siap bertarung melawan si pecundang. Suara sang majikanpun terdengar agak aneh, berat dan berwibawa. Berbeda dengan suaranya di saat berbicara biasa.

Si pecundang tampak kaget, tak mampu menandingi kekuatan lawan yang tiba-tiba bertambah sekian kali lipat. Menyadari posisinya, si pecundang berlari mencari pintu keluar. Tak pula ditemuinya. Ketakutan semakin menghantuinya, karena gelap mulai mengusainya. Berbalik tubuh, hendak meminta maaf pada lawan. Terlambat! Macan kumbang besar itu  menerjangnya, dan menginjak-injak tubuhnya yang terkapar di lantai ruangan. Siap mencabik-cabik dan mengoyak habis isi perutnya.

Sang majikan terburu sadar, bertasbih memuji kebesaran Allah, sang macan kumbangpun pergi. Kekuatan dahsyat ikut berlalu, meninggalkan tubuh titisannya yang melemah. Tak berdaya, hanya ada rasa sakit di dada sebelah kiri, karena kekuatan itu pergi dengan menjejak kuat di sana.

Deni terduduk lemas. Tak segera menyadari apa yang telah terjadi, yang jelas dihadapannya terkapar lemas tubuh Tito kawannya. Tak kurang satu apapun, Tito mencoba bangkit dan duduk bersebelahan dengan Deni.

â€Maafkan aku yah Den. Aku tak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya ingin mengingatkan apa yang telah kamu lakukan. Tapi aku akan bantu kok, supaya semua bisa berjalan lancar kembali.â€
Deni diam saja.
Perlahan Deni mereguk minuman segar yang disodorkan Tito kepadanya.
Setelah mersa membaik, Deni mulai berbicara
“Aku juga minta maaf. Kamu boleh mengingatkan aku, namun tolong, caranya diperhatikan. Jangan bikin aku terpojokkan. Aku tadi merasa terhina oleh kata-katamu. Kemarahanku memuncak dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.â€
Tito manggut-manggut dan segera memeluk Deni erat-erat.
Persahabatan mereka kembali terjalin.

Kejadian ini bukan kali pertama. Sudah dua kali Deni mengalaminya, dan ini kali ketiganya. Namun dia masih tetap bingung dengan kejadian itu.
Macan kumbang itu, suara berat itu, semua terekam ulang dalam benaknya. Antara sadar dan tidak.

Alkisah, sang ayah bercerita tentang sang kakek yang sakti mandraguna. Dalam pengejaran laskar DI TII jaman dahulu, kakek selalu dengan mudah menyelamatkan diri. Macan kumbang hitam itulah yang selalu menemani kemanapun kakek pergi. Saat terdesak, macan itu akan beraksi, menampakkan diri dan melawan musuh sang majikan.

Kakek telah lama meninggal dunia. Macan kumbang itu masih tetap ada berkeliaran di dalam rumah kakek. Menemukan tubuh Deni kecil yang sering bermain sendirian. Sang macanpun terus menerus membayangi kehidupan Deni hingga dewasa. Tak ada seorangpun yang tahu. Hanya Deni yang selalu merasa tak sendirian lagi.

Macan itu akan datang kala Deni tak mampu lagi meredam emosinya. Dalam kemarahan yang amat dahsyat. Karena harga dirinya yang terinjak dan terkoyakkan. ……… …

Cipageran Asri 2007-04-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: