06. Kisah Pengemis Tua

Di tengah panas yang sangat terik, tampak sosok tua dengan wajah lusuh melangkah tertatih-tatih. Sebentar-sebentar laki-laki tersebut melihat ke arah matahari. Panas yang semakin terik membuat kerongkongannya semakin kering. Dari kejauhan dia melihat sebuah rumah mewah. Muncul sedikit harapan pemilik rumah tersebut bersedia memberinya makan. Entah sudah berapa rumah dari tadi yang dia kunjungi, namun tak satupun yang mau memberinya sesuap nasi. Kemudian lelaki tersebut berjalan memasuki pekarangan rumah yang terlihat sangat megah.

” Kasihani saya Pak. Dari kemarin saya belum makan!” katanya memelas.

” Siapa kau beraninya minta makan padaku. Pergi dari sini!”

Tanpa belas kasihan pemilik rumah tersebut mengusirnya. Dengan perasaan sedih pengemis tua tersebut melangkah ke luar rumah yang ternyata milik punggawa istana Kerajaan Arengka. Dia terus saja berjalan berharap ada yang mau mengasihaninya.

Akhirnya pengemis tua tersebut bertemu dengan sebuah warung nasi. Dia berharap pemilik warung tersebut mau memberikannya sepiring nasi.

” Kasihani saya Bu! Beri saya nasi !”

Pemilik warung menatap pada pengemis tua tersebut. Bau menyengat keluar dari tubuh pengemis tua tersebut. Pemilik warung dan pembeli yang sedang menikmati makanannya menatap dengan wajah marah pada pengemis tua tersebut.

” Dasar pengemis busuk! Membuat selera makanku hilang. Pergi dari hadapanku!”kata salah seorang pembeli.

Seperti mengusir seekor anjing buduk, pengemis tersebut pergi dengan perasaan sedih dan perut yang semakin menjerit-jerit minta diisi. Hm…. Aku tidak menyangka penduduk negeri ini tidak punya hati sedikitpun. Entah berapa rumah yang aku singgahi, tapi tak satupun yang mau memberiku sesuap nasi. Padahal mereka tergolong orang yang berada.

Pengemis tua tersebut melanjutkan perjalanannya. Sambil menghilangkan penat di tubuhnya, pengemis tua tersebut berhenti di bawah pohon yang rindang. Tak jauh dari pohon tersebut berdiri sebuah gubuk reot, yang tak pantas lagi di huni. Sebagian dari dinding pondok tersebut telah terbuka karena kayu yang lapuk. Karena tubuh yang lelah pengemis tua tersebut tertidur di bawah pohon rindang tersebut.

” Pak! Pak! Bangun!” Pengemis tua terbangun dan terkejut menatap seorang pemuda yang berada di hadapannya.

” Sebentar lagi malam, Bapak mau kemana?” tanya pemuda tersebut.

” Saya tidak punya rumah. Saya hanya berkelana dari satu tempat ke tempat lain.”

Sebaiknya malam ini Bapak tinggallah dulu di gubuk saya. Esok Bapak bisa lanjutkan perjalanannya kembali!” Malam itu pengemis tua tersebut menginap di gubuk pemuda tersebut yang bernama Candil. Meskipun tubuh pengemis tua itu bau dengan baju yang lusuh dan compang camping, namun Candil dan ibunya tidak menjauhinya. Bahkan mereka memberikan ubi rebus untuk mengganjal perutnya. Esok harinya, pengemis tua pamit dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Sudah tiga minggu lamanya, Raja Arafuru tidak bisa di temui oleh siapapun. Dari pesan yang disampaikan Permaisuri Margaretha, Raja Arafuru sedang menenangkan pikiran untuk menentukan siapa yang akan menjadi penasehat kepercayaannya menggantikan penasehat lama yang telah mangkat satu bulan yang lalu.

Hari ini, Raja Arafuru kembali duduk di singgasananya. Hari itu juga baginda raja akan memutuskan siapa yang akan menjadi penasehat dan orang kepercayaannya. Candil ikut hadir dalam acara tersebut. Dia sendiri bingung karena selama ini dia tidak pernah di undang ke istana.

” Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan aku angkat sebagai penasehat sekaligus orang kepercayaanku. Setelah aku renungkan dan timbang-timbang, maka aku atas nama Raja Arafuru mengangkat Candil sebagai penasehat dan orang kepercayaanku!”

Semua yang hadir pada saat itu bingung karena mereka tidak pernah mendengar nama Candil. Candil yang mendengar titah baginda tersebut sangat terkejut. Dia bingung kenapa dia yang di pilih. Akhirnya Candil di minta raja untuk berdiri di sampingnya. Undangan yang hadir saat itu heran dan terkejut dengan pemuda lusuh dan kotor pilihan baginda tersebut.

” Karena ketulusan dan keikhlasannya menolong orang lain tanpa melihat siapapun orangnya. Meskipun yang datang padanya pengemis tua yang lusuh dan berbau busuk, aku memilih dia jadi orang kepercayaanku sekaligus penasehatku!”

Beberapa orang yang hadir dan juga mencalonkan diri sebagai orang kepercayaan raja langsung merah padam wajahnya. Mereka tidak menyangka pengemis yang datang pada waktu itu adalah raja mereka. Meskipun Candil terlahir sebagai pemuda miskin, namun Candillah orang yang paling kaya saat itu. Karena seseorang di nilai orang kaya jika dia mau berbagi dengan yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: