05. Kesadaran Sangkuriang

Malam telah lewat, kesibukan di tengah hutan menghilangkan lengang kelam. Angin menghembuskan aroma daun-daun yang mulai membasah ditetesi embun. Di balik rimbun pepohonan terdengar jejak langkah yang teratur, deru napas yang berirama sedemikian rupa, hingga semua penghuni di hutan itu tidak mengetahui ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum fajar tiba.

Perempuan itu tidak dapat memejamkan mata, dalam hatinya tumbuh gelisah yang subur. Kegelisahan yang sebenarnya ingin ia buang jauh-jauh. Sepanjang malam ia berpikir bagaimana menghilangkan perasaan cinta seorang laki-laki, dan ia menyesali mengapa harus memberikan semacam syarat. Betapa ia menyesali.

Perempuan itu bangkit dari pembaringan, merapihkan rambut panjangnya yang halus. Mengencangkan jarit pada pinggang rampingnya. Melangkah menuju pintu dan membukanya. Ditatapnya kelam malam, ia dapat merasakan suasana ramai di tengah hutan. Pandangannya menelisik angkasa, ternyata langit begitu muram tak ada sedikit pun cahaya. “Bagaimana lagi harus aku sadarkan anak itu. Telah banyak bukti yang aku perlihatkan pada dirinya, mengenai siapa aku dan siapa dirinya. Aku menyesal telah memberi jalan padanya. Mengatakan permintaanku untuk dibuatkan perahu beserta danau. Firasatku mengatakan bahwa anak itu tidak akan berhasil memenuhi permintaanku, namun aku salah duga. Sekarang, di tengah hutan itu, aku tahu semua pekerjaan hampir selesai. Dan apa dayaku?”

Masih dengan rasa gelisah, perempuan itu berpikir keras. Namun tiba-tiba saja pikirannya buntu. Hingga ia tak menyadari kedatangan tiga orang perempuan. Kedatangan yang mengejutkan raganya. “Sumbi, mengapa kau tidak tidur?”

“Kalian? Aku tak dapat tidur, malam ini aku gelisah.”

“Kau pasti memikirkan laki-laki itu bukan?”

“Ya. Aku sedang berpikir bagaimana menggagalkan pekerjaan laki-laki itu. Kalian tahu bukan? Dia anakku.”

“Itu salahmu sendiri Sumbi, mengapa dulu kau harus mempelajari ilmu itu. Jadi wajar saja. Dulu aku pernah peringatkan kamu, tidak perlu mempelajari ilmu itu. Karena umur kita, usia kita telah ditentukan oleh Hyang Widi. Jadinya seperti ini, kecantikanmu bertahan, usiamu mengekal, hingga anakmu sendiri tidak percaya bahwa kau ibunya. Ibu kandung, ibu yang telah melahirkan dia, Sangkuriang.”

“Aku mempelajari ilmu itu hanya untuk suatu pertemuan. Pertemuan dengan anakku. Aku menyesali tindakanku, mengusir anak sendiri. Aku marah saat itu. Bagaimana tidak?”

“Yah…, aku sudah mendengar ceritamu berulang kali. Bagaimana dengan amarah yang mengakar kamu mengusir Sangkuriang. Kamu harusnya sadar, dia anakmu. Dan mungkin ini tidak akan terjadi jika saja kamu tidak pernah meminta hati Rusa. Sebagai anak, Sangkuriang tidak menginginkan ibunya kecewa karena tidak mendapatkan hati Rusa. Sangkuriang berpikir yang terbaik buatmu, untuk ibunya. Lalu dia memberikan hati Tumang, sebagai pengganti hati Rusa.”

“Kenapa kamu tidak menceritakan siapa sebenarnya Tumang. Ini menjadi kesalahan tersendiri bagi kamu.”

“Tidak mungkin aku menceritakan siapa Tumang. Sangkuriang baru berumur tujuh tahun saat itu, dia tidak akan mengerti. Yang dia tahu, Tumang adalah teman bermainnya. Anjing hitam yang selalu berada didekatnya saat ia lahir ke bumi fana juga saat berburu.”

“Bumi ini memang fana, tapi seharusnya kalian memikirkan bagaimana cara menggagalkan pekerjaan Sangkuriang. Jangan membuat Sumbi semakin gelisah.”

“Maafkan aku telah membuat kalian susah, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengagalkan pekerjaan Sangkuriang. Pastilah semua pekerjaannya hampir selesai.”

“Begini saja, bagaimana jika kita memitas waktu.”

“Maksudmu membuat fajar cepat datang?” Sumbi tak mengerti.

“Ya. Kita bangunkan semua penghuni hutan ini. Cara membangunkannya, kita ubah suasana sepi ini dengan keramaian lesung yang beradu dengan alu. Pastilah semua terbangun, dan ayam hutan akan segera berkokok. Meneriakkan ucapan selamat paginya pada semesta.”

“Apakah mungkin?” Sumbi terlihat ragu.

“Kita coba saja dulu, ayo kita lakukan sekarang!”

Semua bergegas menuju belakang rumah. Mereka berempat menata letak lesung sedemikian rupa agar suaranya terdengar sampai tengah hutan. Lalu ketiga perempuan itu sibuk, beralu-aluan. Sumbi menimba air, menyalakan api tungku, lalu membakar timbunan jerami. Kobaran api itu dijaga Sumbi agar selalu menyala. Ternyata kegaduhan ini membangunkan ayam hutan, tak berapa lama seluruh penghuni hutan terbangun. Fajar pun datang.

“Ada apa Sumbi? Mengapa kau membangunkan aku dari tidur panjangku?” “Fajar, terima kasih atas kedatanganmu. Tidak sia-sia aku dan teman-temanku berusaha memanggil dan mendatangkanmu ke hadapanku.” “Ya, tapi ada apa? Hingga kau harus menggangu tidur panjangku. Kita telah bersepakat bukan, aku yang akan mendatangi tempatmu. Menanamkah benih pada rahimmu. Bukan kau yang memanggilku. Kau tidak lupa kan?” “Ya, aku tidak lupa. Tapi bukan itu maksudku memanggilmu saat ini, ada hal yang membuatku gelisah. Kau tahu di sana, di tengah hutan itu, seorang laki-laki tengah menyelesaikan pekerjaan. Kau pasti tahu karena kisah itu telah disuratkan Hyang Widi dalam kitab-kitab.” “Ya aku tahu. Laki-laki itu anakmu bukan?”

“Benar! Sangkuriang anakku. Aku ingin kau menggagalkan pekerjaan itu. Tapi ingat, jangan kau sakiti Sangkuriang apalagi sampai membunuhnya.”

“Baik, akan aku gagalkan pekerjaan anak muda itu. Tapi ingat ada syarat yang harus kau turuti.”

“Apa pun permintaanmu akan aku turuti, sekarang pergi dan hentikan pekerjaan Sangkuriang. Jangan pernah kau sia-siakan waktu, sedikit saja terlambat akan berakibat fatal.”

“Baiklah, aku pergi.” Tanpa berpikir panjang Fajar meninggalkan Sumbi yang semakin diliput kecemasan. Sumbi mengawasi langkah Fajar dari balik rimbun pohonan disertai rangkaian doa.

Sesampainya di hutan Fajar memasuki lintasan gaib. Aroma dupa mengawang juga wangi pucuk-pucuk daun jambu. Setelah merasakan kesibukan di hadapannya yang kasat mata, Fajar menempelkan telapak tangannya pada tanah merah yang lembab.

Merasa ketenangannya diganggu, Sangkuriang mengepalkan tangan dan segera melakukan tindakan yang tidak diduga oleh Fajar. Dengan mudahnya kepalan tangan itu ditiup oleh Sangkuriang. Seperti cahaya lilin, Fajar menguap begitu saja. Kilau cahaya yang melingkupi tubuh Fajar redup seketika. Seolah tak terjadi apapun Sangkuriang melanjutkan pekerjaannya.

*

Potongan kayu tersebar di tengah hutan, tidak terlihat siapapun di sana, hanya terdengar deru napas yang berirama. Sangkuriang menunjuk-nunjukkan tangannya memberi komando. Punggungnya basah oleh keringat, sesekali matanya memandang ke angkasa. Langit begitu muram saat ini, tak ada cahaya bulan yang membantu menyelesaikan pekerjaannya. Peristiwa magis sedang terjadi di hutan itu. Batu-batu besar saling beterbangan mengarah pada sumber air jauh ke tepian hutan. Kesibukan yang tidak tergambarkan itu terganggu oleh kokok ayam hutan. Laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah tempat tinggal kekasihnya. Pendengarannya dipertajam. Ia mendengar bunyi lesung yang beradu dengan alu, lalu suara air yang ditimba. Ia bingung. Lagi-lagi matanya mengarah ke tempat tinggal kekasihnya. Di sana, jingga semakin menyadarkan dirinya. Usaha yang ia lakukan ternyata sia-sia. Suara ayam hutan membuat geram hatinya.

“Lanjutkan pekerjaan kalian!” Ia berteriak entah pada siapa, yang pasti batu-batu besar itu semakin cepat melayang jauh ke tepian hutan menuju sumber air yang hampir selesai dibendung.

*

Setelah tahu Fajar gagal menyelesaikan tugasnya, Sumbi kembali membuat kesibukan dengan ketiga temannya. Kembali pada alu yang saling bersinggungan. Timbaan yang sengaja dipergaduh. Membangunkan ayam-ayam hutan. Semua yang Sumbi lakukan adalah sia-sia.

*

“Sumbi kekasihku, permintaanmu telah aku selesaikan dengan baik. Keluarlah kekasihku. Pagi ini kita akan menikmati perjalanan pertama kita sebagai suami istri. Pagi ini aku akan menikahimu di perahu yang telah aku selesaikan. Sempurna, semuanya sempurna Sumbi. Keluarlah! Bukankah kau ingin menikmati bagaimana nikmatnya udara pagi di atas perahu. Bukankah kau ingin memanjakan pandanganmu, menikmati panorama danau.”

“Tidak! Kau tetap anakku. Dan kau tahu kita tidak akan pernah menyatu, kau adalah buah rahimku Sangkuriang. Percayalah.”

“Aku tidak akan pernah mempercayai perkataanmu, Sumbi. Jika kamu menolak kehadiranku bukan itu alasannya. Tapi semua sudah terlambat, aku terlanjur mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah percaya bahwa kau Ibuku. Kau adalah Dewi di hatiku, jika kau tidak mencintaiku tak apa. Tapi percayalah aku teramat mencintaimu. Jika kau tidak ikut, aku akan memaksamu. Cinta telah membuat aku buta. Ayolah kekasihku, Sumbi.”

Tak ada percakapan lagi setelah itu. Sumbi berlari memasuki hutan, ia ingin membuktikan perkataan anak laki-lakinya dan ingin mengetahui keberadaan Fajar. Sesampainya di tengah hutan, Sumbi hanya terdiam tak dapat melakukan apapun. Tak ditemuinya jejak-jejak Fajar. Apa yang dikatakan Sangkuriang ternyata benar. Sumbi diam. Tak ada air mata yang jatuh, hanya kediaman yang Sumbi berikan.

Gemericik air tidak menggugah kesadaran Sumbi, tatapan matanya kosong. Sumbi tak pernah lagi mendengar apa yang di katakan Sangkuriang. Sumbi hanya merasakan kekosongan. Baginya semua telah berakhir, Sumbi memilih diam sebagai dunia abadinya.

Setelah satu kali berputar, perahu itu kembali ke tempat asal, tepian hutan. Melihat kediaman kekasihnya, Sangkuriang teringat kembali masa kecilnya. Diamnya Sumbi sama dengan ketika Sangkuriang menghadapi kediaman ibunya, ketika tahu hati Tumang yang diberikan Sangkuriang. Tiba-tiba saja ingatan masa kecilnya hadir kembali tanpa ia duga.

Kenangan kembali berlesatan seperti lelatu. Wajah ibunya kembali hadir dan dapat Sangkuriang ingat. Kelembutan ibunya sama dengan kelembutan Sumbi. Sangkuriang mencoba mengingat nama ibunya. Nama ibu yang seharusnya ia kenali. Ingatannya tentang Tumang, anjing setianya muncul. Nama ibunya. Ya, Sangkuriang ingat.

***

Keterangan:  Jarit adalah kain batik panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “05. Kesadaran Sangkuriang”

RSS Feed for Cerpen Dongeng Comments RSS Feed

woi.. panjang kali ceritanya….
yang pendek jha napa??/


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: