04. Dipecat

“Biem.., Boss manggil tuhâ€, Rini menepuk pundak Abiem dari belakang . “
Gua udah tau..â€, balas Abiem, “ Be strong ya Biem..!†Rini membalas, matanya agak sedikit berkaca. Hari itu kabar sudah meluas di perusahaan percetakan milik keluarga Satriono, tempat Abiem bekerja sebagai tukang design, Abiem akan di PHK…! tidak hanya Abiem, Krisno si supir kurus sampai Hadi sang pelicin kaca jendela dan tukang bersih wc pun kecipratan. Hari hari kelabu bagi para karyawan CV Bintang Emas. Sudah hampir satu tahun ini percetakannya tidak meraih keuntungan ,†tidak ada pilihan lain… lebih dari separuh karyawan CV ini harus di berhentikan. .†kalimat yang menjadi hantu di setiap tidur awak CV Bintang Emas. Dan hari ini Abiem…, harus bersiap menuju kamar Eksekusi, kamar sang juragan..Raden Mas Satriono.

Bagi Abiem, sebenarnya peristiwa ini bukanlah godam palu yang telah menghancurkan kepalanya, “Lu kira gua bakal nangis bombay apa ?, gue happy Satrio..! ujar Abiem dalam hatinya, Abiem menyambut jabatan tangan Pak Satriono, berbalik dan kembali keruangan kerjanya. Karyawan CV Bintang Emas yang lain sudah menunggu di kubikal tempat Abiem bekerja, mereka memperlihatkan wajah sedih, duka karena harus kehilangan sahabatnya si jago guitar yang selalu mengiringi mereka bernyanyi-nyanyi lantang ketika Pak Satriono di luar kantor. Rini, begitu ekstrim memperlihatkan wajah merah pucat dan pipinya yang basah, “ Rin.. Lu nangis gitu sih?, tadi lu minta gue “Be Strongâ€, malahan mata kamu sekarang yang kebanjiran†Abiem mengusap pipi Rini dan mengajaknya tersenyum.. “ Iiih.. Abieemm.. yang “be strong” itu elu.. bukan gue…â€, Rini membalas agak terbata… “nanti siapa lagi yang ngiringin gue nyanyi ?“ suaranya melemah. Rini gadis centil berkulit legam dan berambut ikal itu memang gemar sekali menyanyi, setiap hari sehabis jam kantor Rini selalu meminta Abiem untuk mengiringi nya bernyanyi,â€satu lagu aja Biem..!â€, kalimat itu selalu terdengar di telinga Abiem setiap sore. Rini sebenarnya tidak bisa menyanyi, nada apapun yang di sesuaikan abiem selalu saja melenceng, Abiem selalu memperhatikan ekspresi Rini ketika sedang menyanyi, bola mata dan alisnya di angkat, hidung nya di rekahkan, dan mulut agak sedikit monyong, Rini selalu membayangkan dirinya adalah Rita Efendi. Nyanyian Rini sama sekali tidak lebih baik dari senandung tokek yang tidak pernah bosan mengganggu lelap manusia di malam hari. Tapi Abiem selalu melayani.†Rin.. belajar nyanyi lagi yang bagus yah..!†kalimat itu pun tidak pernah luput tercuat dari mulut Abiem setiap sorenya. Rini begitu percaya diri bahwa ia dapat bernyanyi merdu.

Isakan Rini semakin berisik, Abiem mengabaikannya sambil menjabat tangan dan merangkul erat seluruh rekan kantor yang masih tersisa dan mungkin menunggu giliran panggilan sang juragan untuk eksekusi berikutnya. Abiem menggenggam handle pintu kantor, membukanya perlahan -terdengar suara bising para pedagang kaki lima yang meneriakkan dagangannya persis 7 meter
dari depan ruko sewaan CV Bintang Emas-, kemudian melangkah dan menghilang terbawa arus mikrolet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: