03. Perahu Kertas dengan Huruf-huruf Kanji

SELAMAT PAGI TOKYO! Musim semi bergaun hijau telah rebah di tengah pengunjung Taman Ueno. Sejenak bumi tak berputar gasing. Bunga-bunga sakura montok mekar dan menyala-nyala di pipi perempuan, dan lonceng-lonceng nun jauh dibunyikan dewa. Di sini, di taman ini, telah terjadi percintaan gaib antara bulan April yang mungil dan bunga-bunga sakura. 1

Setahun lalu ia bertemu Akiko di Taman Ueno. Waktu itu musim semi. Lalu ia berpisah dengan nama, nomor telepon dan cinta semi di dada serupa bunga-bunga sakura. Ia kembali ke negerinya dengan kertas-kertas origami bermotif huruf-huruf kanji pemberian Akiko. Ada mimpi berlipat-lipat di kertas-kertas origami itu. Tentang bertemu kembali dengan Akiko. Tentang menikah dan berumah di pulau.

***

SETIAP HARI, ia melipat-lipat kertas, membuat perahu. Dan Akiko hampir setiap malam tiba lewat kabel telepon dengan Tanya, “Bagaimana perahumu? Aku menunggu di Taman Ueno. Sakura mekar di mana-mana. Maukah kau tiba lebih lekas?” Ia—dengan senang hati—mengabarkan telah membuat perahu sembilan puluh atau seratus satu juga rindu yang mengetuk-ngetuk pintu juga dada tiada henti. Perempuan itu, lewat telepon kadang hanya datang bertanya, “Apa kabar ombak?” Ia mengirim suara ombak yang semakin hari semakin besar. “Jangan khawatir! Perahu-perahu itu akan membawaku ke Taman Ueno tepat waktu.”

Ia seorang lelaki dengan gelombang laut di dada, tak surut-surut. Ia telah membaca Sawerigading mencari We Cudai, berkali-kali. Ia adalah Sawerigading yang hidup dari halaman-halaman Lagaligo 2. Di Taman Ueno, seorang We Cudai menunggu setia, We Cudai bernama Akiko Tsuru. Ia harus tiba sebelum bunga-bunga sakura di telan musim gugur. Itulah sebabnya setiap saat, pagi-sore-malam, ia membuat perahu. Perahu kertas dengan huruf-huruf kanji.

Matanya tak pejam bermalam-malam membuat perahu. Setiap saat Akiko datang membawa kabar bunga-bunga sakura dan musim semi yang menua. Ia merasa musim gugur telah berdiri di depan pintu menggedor-gedor ingin masuk segera. Ia ingin mengatakan kata sabar, tetapi musim gugur bukan tidak sabar. Musim semi telah jenuh menunggu. Ia terus melipat kertas berpacu dengan musim gugur di depan pintu. Kamarnya menjelma lautan perahu kertas dengan huruf-huruf kanji.

Ombak semakin sering datang menjilat-jilat tangga membawa kabar tentang perempuan yang gelisah di Taman Ueno. Separuh kertas bermotif huruf-huruf kanji itu belum jadi perahu. Ia harus selesai sebelum musim gugur tiba di Taman Ueno. Akiko menunggu di bangku taman itu. Ia harus menyelesaikan perahu secepat mungkin sebelum musim semi berangkat dari Taman Ueno.

Dengan perahu kertas bermotif huruf-huruf kanji ia akan datang membayar janji. Ia akan menyelipkan bunga sakura yang jatuh pada rambut Akiko, lalu meletakkan bibir di atas dahi perempuan itu beberapa detik. Ia akan mengajak Akiko duduk di bangku taman. Bercerita; tentang ombak lautan yang ia taklukkan sambil menyaksikan bunga-bunga sakura jatuh dan musim semi pamit ke langit. Atau tentang kenangan setahun silam di bangku itu, atau tentang masa depan: berumah di pulau.

***

BEBERAPA JENAK, ia mengangkat tangannya dari kertas origami. Angin tiba pada rambutnya membawa ingatan-ingatan atau barangkali harapan-harapan: tentang Taman Ueno dan bunga-bunga sakura. Ia tersenyum membayangkan Akiko menunggu di Taman Ueno. Ia harus menyelesaikan seribu perahu kertas dengan huruf-huruf kanji. Perahu yang akan membawanya melayari lautan.

Ia mengenang kembali detil-detil pertemuannya dengan Akiko. Ia duduk di sebuah bangku taman, sendiri. Seorang perempuan datang membawa sedih di wajah dan sepi dalam bungkus sweater. Perempuan dengan sweater berwarna cokelat yang melipat kedua tangan erat-erat seperti ada sakit yang menusuk-nusuk di dada. Perempuan itu tiba-tiba bertanya, ” Kono seki wa fusagatte imasu ka?” 3

Ia ingat adegan dua lelaki di drama Edward Albee, Zoo Story 4. Ia tak merasa memiliki hak penuh atas bangku itu—seperti lelaki dalam drama absurd itu. Perempuan itu terlalu sedih untuk diajak berkelahi. Apa salahnya berbagi tempat duduk. Ia bilang ‘tidak ada’.

Mereka bercerita banyak diawali dengan basa-basi ‘ samui desu ne?’ 5 kemudian tentang nama sampai tentang kenapa ada di taman itu.

Setiap musim semi tiba, Akiko datang ke taman itu berharap bertemu dengan kekasihnya. Taman itu adalah tempat ia selalu bertemu dengan kekasihnya. Suatu hari di musim semi, mereka, seperti biasa, berjanji untuk bertemu, tetapi kekasih yang dinanti tak datang. Itulah sebabnya ia selalu datang ke taman itu dengan sedih, sepi dan nanti di sekujur tubuh—berharap di sebuah musim semi ia temukan kekasihnya kembali.

Ia tak pernah menyangka tiba-tiba ada sesuatu yang hangat menjalari dadanya. Entah kenapa ia tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi kekasih—mengganti kekasih yang hilang ditelan musim. Mereka sepakat. Mereka menjadi sepasang kekasih di bawah bunga-bunga sakura yang mekar merah. Di Taman Ueno, Musim Semi.

***

SEDIKIT LAGI, semua kertas itu selesai ia lipat menjadi perahu. Setelah itu ia akan berlayar ke negeri Akiko, ke Taman Ueno. Kalau malam ini ia selesai, besok ia bisa berlayar meninggalkan pulau. Ia terus melipat-lipat, seperti melipat baju-baju untuk dibawa pergi dari rumah, menyelesaikan kertas-kertas berhuruf kanji yang tersisa.

Kertas terakhir dilipat tangannya yang berurat-urat kuat. Ia akan membuat perahu terakhir. Dan selesai!

Ia mengumpulkan lautan perahu kertas itu. Ia menghitung satu-satu, hati-hati. Satu, dua, tiga, sepuluh, tujuh puluh tiga, seratus sembilan, tiga ratus. Ia terus menghitung dan ombak menjilat-jilat di tangga. Ombak itu membawa kabar dari jauh atau barangkali datang menjemput seribu perahu kertasnya yang akan berlayar itu. Ia terus saja menghitung, hati-hati. Tiga ratus enam puluh dua, empat ratus tiga enam, lima ratus delapan. Bingkai jendela tetap membawa asin lautan pada kulitnya. Ia menghitung terus dan terus menghitung.

Ia selesai menghitung tetapi ternyata perahu itu hanya berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Kurang satu. Ia tidak percaya, Akiko memberinya seribu kertas dengan huruf-huruf kanji waktu itu. Ia kembali menghitung. Setiap ia selesai, perahu itu tetap berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Ia ulangi dan ia ulangi. Tetap kurang satu.

Ia menangis dan ombak semakin keras. Tak tahu apa yang harus ia lakukan, di pulaunya tak ada yang menjual kertas origami. Tak ada yang menjual kertas-kertas dengan huruf-huruf kanji. Ia menangis dan akhirnya tertidur. Ia bermimpi melihat Akiko duduk di bangku taman itu menunggu dengan sweater cokelat dan tangan dilipat memeluk sepi. Ia bangun dengan keringat di dahi serupa lautan-lautan kecil. Angin kembali tiba di rambutnya membawa ingatan-ingatan atau barangkali harapan-harapan: tentang janji tiba tepat waktu dan berlayar kembali untuk berumah di pulau. Ia menangis.

Ia bangkit ke arah telepon. Nomor-nomor telepon genggam Akiko ia tekan serupa musim gugur menggedor-gedor pintu.

“Halo! Maukah kau mengirimiku kertas satu lembar lagi?”

Ia mendengar di telinga kanannya sebuah jawaban—nyaris seperti bisikan—pelan, sangat pelan. “Bunga sakura jatuh satu-satu dan musim semi telah berangkat entah ke mana.”

Ia merasa sebuah ombak besar menggulungnya tiba-tiba.

“Maukah kau menggenapkan perahuku? Tolong, kirimi aku selembar lagi.”

Kembali ia dengar sebuah jawaban serupa bisikan. “Maaf, kertasku sudah habis!”

Klik!

Makassar , 2003

Catatan:

1 Paragraf pertama digubah dari Puisi Taman Ueno, Musim Semi karya Muhary Wahyu Nurba.

2 Lagaligo adalah sebuah epos Bugis yang salah satu bagiannya bercerita tengang seorang bernama Sawerigading yang berlayar jauh sampai ke Negeri Cina mencari perempuan sangat jelita bernama We Cudai yang ingin dinikahinya.

3 Kono seki wa fusagatte imasu ka? Dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti Apakah tempat duduk ini ditempati?

4 Zoo Story, sebuah drama pendek karya Edward Albee yang dalam salah satu bagiannya diceritakan tentang dua tokoh yang sedang mempertengkarkan sebuah bangku taman.

5 Samui desu ne dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti Dingin, ya?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: