02. Topeng Tupping

Sesosok tubuh terbaring miring di atas hamparan pasir putih tepi pantai. Sekelompok burung gagak berkoak-koak ribut sambil melayang rendah, lalu hinggap di atas tanah, dekat tubuh itu. Seekor yang berbadan besar dan berparuh rompal, Sang Pemimpin, dengan berani berdiri sangat dekat. Ia mengamati wajah makhluk di depannya yang berwarna abu-abu kelam, kecuali dua bulatan putih di kiri-kanan hidung—ia berkonsentrasi pada bagian itu—yang sebentar lagi akan jadi calon santapannya, dengan seksama. Bagi Sang Pemimpin, tanda putih itu adalah tanda sasaran yang memudahkannya untuk langsung mematuk sepasang bola kecil berlendir yang bersemayam di dalam ceruk berselubung kelopak kulit, di bawah sederet bulu lebat berbentuk cekung. Dari begitu banyak perburuan yang telah dilalui, Sang Pemimpin telah memutuskan kalau bagian itu adalah favoritnya. Meski  agak susah disantap dibanding bagian empuk-berlemak di bagian paha dan perut, atau bagian kental yang tersembunyi di dalam rongga tengkorak di bawah kulit kepala, tapi bola berlendir itu memberikan sensasi tersendiri baginya. Kerongkongan Sang Pemimpin mulai terasa kering. Ia lapar.

Ketika konsentrasinya hampir mencapai puncak, dan seluruh anggota sudah menunggu perintah “Serbu” darinya dengan tak sabar, kelopak di tengah bulatan putih itu tiba-tiba membuka perlahan, berkedip-kedip sebentar, lalu memutar-mutar sepasang bola berlendir di baliknya ke atas-bawah, ke kanan-kiri. Ia belum mati, batin Sang Pemimpin. Dalam tegang, gagak itu menanti reaksi. Hingga akhirnya, sepasang bola tersebut berhenti dan memandang tepat lurus ke arahnya dengan tajam, dari ujung paruh.

“ARRGHHH!!” Tanpa diduga, terdengar teriakan menggelegar dari mulut tubuh yang terkapar itu, dan membuat ketakutan segerombolan gagak yang sedang menanti kematiannya. “Aku masih hidup!!” teriaknya.

Orang itu langsung memutar kepalanya sedikit, dan  mencium tanah.

***

Entah sudah berapa kali matahari tergelincir di sebelah barat, lalu naik lagi sampai tinggi dari sebelah timur, dan tergelincir lagi, begitu seterusnya. Sosok yang lebih menyerupai makhluk gua berambut kusut masai daripada seorang manusia beradab itu terus berjalan menyusuri pantai, melintasi padang rumput, menyeberangi rawa dan merambah hutan, tanpa kenal lelah. Ia adalah laki-laki yang beberapa waktu lalu hampir berakhir sebagai potongan daging dalam perut segerombolan gagak, yang bernama Ompung Silampongan.

Setelah berhasil menyelamatkan diri dari kemarahan Dewa Gunung di daerahnya, Tapanuli—waktu sedang berburu bersama ketiga saudaranya di hutan kaki gunung—Ompung mendapati dirinya terdampar di tepian pantai daerah yang asing itu, sendiri. Setelah cukup memulihkan kekuatan selama beberapa waktu, Ompung meninggalkan daerah tepian, mencari tempat yang lebih aman dan sejauh mungkin dari jangkaun muntahan Sang Dewa Gunung—di kejauhan, masih terlihat kepulan asap hitam yang membumbung tinggi.

Tanpa tahu arah dan tujuan, Ompung berjalan mengikuti langkah kakinya yang tertatih. Hingga pada suatu pagi yang cerah, ketika embun terakhir baru saja menetes dari ujung daun dan cahaya matahari mulai membuyarkan tirai kabut tipis yang mengambang di udara, laki-laki itu sampai di sebuah dataran tinggi yang sangat luas.

Sejenak, ia terpesona dengan pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Sebuah padang rumput hijau di tanah yang bergelombang, dihiasi beberapa bunga putih dan kuning kecil-kecil yang melambai kanan-kiri tertiup angin pagi yang basah dan dingin, di antara rumput ilalang setinggi betis.

“Lappung!”* teriaknya tanpa sadar.

Sambil tersenyum, ia memutuskan kalau inilah akhir perjalanannya.

***

Geliat kehidupan di dataran tinggi terpencil itu semakin terasa ketika sejumlah pengungsi dari Tapanuli, sama seperti Ompung, dan para pengembara yang awalnya hanya lewat, kemudian memilih tinggal menetap di tempat itu—setelah terlebih dulu meminta ijin pada Sang Pemilik, Ompung. Dan ketika rumah-rumah kecil dari kayu mulai dibangun di sana-sini, hewan-hewan liar yang dijadikan ternak mulai mengambil tempat di balik pagar pekarangan, tanah-tanah digarap menjadi petak-petak kebun, dan jalan-jalan setapak mulai menghubungkan pintu yang satu dengan yang lain, dataran tinggi itu berubah menjadi pemukiman. Dan Sang Pemilik, diangkat menjadi seorang raja kecil.

Sejak diangkatnya Ompung sebagai pemimpin, memang tidak ada satu pun masalah atau keributan yang tidak bisa diselesaikannya dengan baik, yang menyebabkan  kehidupan para penduduk dataran tinggi itu selalu dalam suasan aman, tentram dan damai. Sampai akhirnya pada suatu sore, ketika seorang laki-laki tua berkulit kuning dan bermata sipit datang ke tempat itu dan memaksa bertemu Ompung.

“Apa keperluanmu menemuiku, Pak Tua?” tanya Ompung dengan ramah, walau sebelumnya, terdengar selentingan kabar bahwa orang tua itu mungkin seorang penyihir.

“Hayya, Owe cuma mau tahu nama tempat ini. Owe sudah datang jauh-jauh, jalan keliling-keliling negli, tapi belum pelnah dapat tempat yang tidak punya nama sepelti di sini. Semua olang sudah Owe tanya tapi tidak ada yang tau. Hayya.” Orang tua itu berbicara dengan logat yang aneh, sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan tipis.

“Apa maksud, Pak Owe?”

“Hayya, kenapa kamu panggil Owe dengan “Owe”, hah?! Owe punya nama I-Tsing.”

“Oh, maaf.”

“Hayya, sepelti tadi Owe bilang, Owe cuma mau tau nama tempat ini, nama kampung atau daelahnya.“

Sebenarnya, pertanyaan pak tua yang bernama I-Tsing itu sangat sederhana. Tapi karena selama ini Ompung memang pernah tidak tahu apa nama dataran tinggi tempatnya tinggal itu, dan ia juga tidak begitu mempedulikannya, laki-laki tinggi-besar itu bingung harus menjawab apa.

“Hayya, kenapa lama sekali dipikil? Apa tempat ini memang tidak belnama, hah?”

Ompung hanya terdiam. Tebakan itu memang benar.

“Aneh sekali. Benal-benal aneh. Sangat aneh.” Orang tua itu menggeleng-gelengka n kepala sambil memilin-milin jenggotnya. Beberapa helai yang rontok, tampak melayang jatuh ke lantai. “Tapi, Owe bisa bantu cali nama kalau mau.”

Mendengar tawaran itu, Ompung langsung menjawab cepat, “Mau, Pak Tua. Mau.”

Akhirnya, setelah menyetujui nilai  tertentu sebagai pembayaran atas “jasa”nya, I-Tsing lalu mengeluarkan segulung kulit pohon berwarna putih yang sangat tipis dan lentur, dan sebatang arang yang ujungnya diraut tajam dari dalam tasnya. Setelah itu, ia lalu menanyakan beberapa pertanyaan yang wajib dijawab Ompung, dan jawabannya itu dituliskan di atas kulit pohon tersebut.

“Hayya, siapa olang yang peltama datang ke tempat ini?”

“Aku.”

“Hayya, aku itu siapa?”

“Bah, aku ini Ompung. Ompung Silampongan.”

I-Tsing tampak menggerakkan arangnya. Setelah itu, ia bertanya lagi, “Hayya, Ompung itu datang dali mana?”

“Tapanuli.”

“Hayya, kenapa bisa sampai ke sini?”

“Karena gunung meletus.”

“Hayya, sampai ke sini dali alah apa?”

“Selatan.”

“Hayya, waktu sampai di sini, kata apa yang dibilang peltama kali?”

“Mm.” Ompung berpikir sejenak. “Lappung.”

Setelah itu, tanya-jawab selesai.

Selanjutnya, I-Tsing minta diantar berkeliling. Dengan membawa sebuah benda berbentuk lempengan merah, yang di tengahnya terdapat sebatang besi tipis sepanjang jari kelingking anak-anak yang terus berputar-putar di atas simbol yang ditulis melingkar, I-Tsing berjalan sambil berkata kalau ia sedang memeriksa feng-shui tempat itu.

“Hayya, sebental malam, Owe harus beltapa minta petunjuk dali Owe punya leluhul. Kalau dapat, besok pagi balu Oe kasih tahu hasilnya.”

Ompung mengangguk mengiyakan.

Kabut baru saja hilang dari pucuk pohon ketika Ompung menemukan I-Tsing telah duduk di kursinya yang kemarin. Tanpa diminta, ia menuliskan sebuah kata dalam huruf yang tidak dimengerti di atas meja batu, dengan arangnya, lalu membacanya, “To-lang-po-hwang.”

“To-lang-po-hwang?” Ompung mengulang kata itu sambil mengerutkan dahi. “Bah! Nama mazam mana pula itu?” Ompung terlihat sedikit gusar karena merasa dipermainkan. Nilai beli cukup tinggi yang dikeluarkannya, dianggap tidak sebanding dengan nama yang terdengar asing, aneh dan bahkan susah diucapkan itu.

“Hayya, kata ini bukan buatan Owe sendili la, tapi dali bisikkan Owe punya leluhul.” Sepertinya, I-Tsing sedikit tersinggung.

“Lalu, apa artinya itu?”

“Hayya, Owe dibelitahu kalau “to” adalah bahasa dari salah satu suku di pulau yang belkaki empat dan berselat tiga, yang altinya olang. Dan lang-pho-hwang altinya Lampung. Kata Owe punya leluhul, nama ini bawa hoki. Hayya, bagaimana?”

Di telinga Ompung yang orang Tapanuli, kata “Lampung” terdengar seperti kata “Lappung”, yang artinya luas. Dengan tersenyum puas, Ompung mengucapkan terima kasih pada laki-laki tua yang telah membantunya itu sambil berkata dalam hati, “Mungkin, hoki yang dimaksud Pak I-Tsing adalah bahwa daerah kekuasaanku  nanti akan menjadi luas, dan lebih luas lagi.”

Senyum Ompung tampak semakin lebar.

***

Seperti ramalan I-Tsing, dari waktu ke waktu, kekuasaan Ompung menjadi semakin luas. Lampung yang dulunya hanya nama kampung, kini berubah menjadi nama kota yang cukup besar dan ramai. Kehidupan penduduknya yang dulu sangat sederhana juga semakin maju dan bertambah makmur. Para petani, peternak dan pemburu kini mulai tertarik untuk belajar berdagang, sedangkan anak-anak kecil dan remaja juga mulai belajar kesenian dan sastra.

Namun, meski telah mencapai kesuksesan, ternyata masih ada satu hal yang membuat Ompung  selalu tampak bersedih. Laki-laki itu merasa kesepian dan ingin segera menikah. Hanya masalahnya, ia belum menemukan seorang perempuan yang sesuai seleranya dan cocok dijadikan isteri.

Hingga pada suatu hari, ketika salah satu sahabat Ompung, Sulah Tuho, membawa pulang seorang perempuan muda berambut panjang dan berwajah cantik, yang didapatnya sedang tersesat di hutan. Perempuan itu bernama Neelam.

Neelam adalah seorang perempuan yang berasal dari Pagarruyuang, yang tinggal di sebuah rumah besar milik seorang pembesar militer India. Kata Neelam— menurut cerita yang ia dengar sembunyi-sembunyi dari para pembantu rumahnya— sebenarnya, ia hanyalah anak angkat keluarga itu—yang kemudian menjelaskan kenapa seorang perempuan dengan tanda bulatan hitam kecil di dahinya, mempunyai kulit putih dan mahir berbahasa Pagarruyuang. Sebelumnya, ia dan orang tua kandungnya tinggal di daerah Pagarruyuang bersama-sama penduduk asli lainnya. Namun pada suatu waktu, ketika daerah mereka diserang oleh tentara India dan seluruh penduduk berbondong-bondong melarikan diri dan mengungsi di hutan, tanpa sengaja Neelam tersandung akar pohon dan jatuh ke jurang. Walau berhasil selamat dan ditemukan oleh para tentara India, Neelam hilang ingatan. Sejak saat itu, ia menjalani hidup baru sebagai anak perempuan keluarga India. Sampai pada suatu malam, ketika ia dipaksa menikah dengan seorang laki-laki India, perempuan itu  memberontak. Neelam pun melarikan diri.

Mungkin karena berasal dari pulau yang sama dan sama-sama merupakan seorang pelarian, Neelam kemudian menerima pinangan Ompung dengan senang hati, dan mereka pun menikah. Kebahagiaan itu semakin bertambah ketika di tahun berikutnya, Neelam melahirkan empat bayi kembar, satu perempuan dan tiga laki-laki, yang diberi nama: Pangeran Bandar Agung, Putri Way Cindai, Pangeran Bumi Rajabasa dan Pangeran Alam Ranau.

***

Sore itu cuaca cerah. Angin musim kemarau bertiup pelan, membuat bunga-bunga ilalang yang berwarna putih seperti sedang menari-nari dengan gemulai di tengah padang rumput hijau yang mirip permadani. Burung-burung kecil berparuh panjang dan ramping tampak terbang rendah di langit biru yang dihiasi awan putih tipis. Jauh agak ke barat, tampak tiga orang laki-laki sedang berkuda beriringan. Mereka adalah Ompung dan dua sahabatnya, Sulah Tuho dan Umpu Rayo.

“Semalam, aku bermimpi buruk.” Ompung berkata dengan wajah murung.

“Tentang apa?” tanya Umpu Rayo yang menunggang kuda coklat, di samping kanannya.

“Tentang masa depan. Menurut mimpiku, masa itu adalah masa impian. Semua yang tidak mungkin dan tidak ada di masa sekarang, jadi mungkin dan ada di masa itu. Tak hanya itu, semua orang juga sepertinya menjadi semakin pintar dan sukses.”

“Wah, kalau begitu baguslah. Tapi, kenapa Anda menyebutnya mimpi buruk?” Sulah Tuho yang menunggang kuda hitam di samping kiri, menunjukkan wajah penasaran.

“Kusebut buruk karena tampaknya hanya sedikit dari turunanku di masa itu yang mau mengingat leluhurnya. Aku, kau, Rayo dan semua yang ada di masa ini. Kebanyakan malah tidak mau tahu dan tidak peduli.” Ompung berkata lalu mendesah panjang.

“Kenapa mereka bisa seperti itu?” Sulah Tuho bertanya lagi.

“Tak tahulah aku.” Ompung menengadahkan wajahnya ke langit, seakan-akan hendak mencari jawaban di sana. “Padahal, aku telah susah-susah membangun ini semua demi mereka. Ternyata…”

“Kalau begitu, apa yang hendak Anda lakukan?” tanya Sulah Tuho sambil membiarkan kudanya mencongklak pelan.

“Aku tak tahu. Benar-benar tak tahu.”

Setelah percakapan itu, mereka lalu memacu kuda kembali ke istana.

Beberapa minggu kemudian, di ruang kerjanya, Ompung menerima kunjungan Umpu Rayo.

“Apa ini, Rayo?” tanya Ompung sambil memegang sebuah topeng yang terbuat dari kulit pohon dan dipahat dengan sangat rapi.

“Seperti yang Anda lihat, itu adalah sebuah topeng. Saya mengerjakannya dengan hati-hati selama sembilan hari sembilan malam tanpa henti, khusus untuk Anda. Topeng itu saya beri nama Topeng Tupping,” jelas Umpu Rayo.

Topeng itu berbentuk seraut wajah orang yang sedang tersenyum aneh. Mulutnya yang melengkung seperti arit terbalik dan tertarik ke atas hingga hampir mencapai telinga, tampak sangat tidak wajar. Warnanya yang biru kehijauan membuatnya mirip seperti kulit mayat yang mati tenggelam di danau berlumut, apalagi kedua matanya bolong. Meski menampakkan wajah tertawa, tapi Topeng Tupping sepertinya mengandung kekuatan magis.

Setelah diam sebentar dan memperhatikan topeng di tangannya dengan seksama, Ompung lalu berkata, “Topengmu ini sangat unik dan bagus, Rayo. Terima kasih karena kau sudah khusus membuatkannya untukku. Tapi, kau kan tahu kalau aku sudah punya banyak topeng di ruang koleksi. Jadi, sebaiknya kau saja yang simpan topeng ini. Maksudku, kutitip topeng ini di rumahmu. Bagaimana?”

Sebenarnya, Ompung sangat suka seni, termasuk seni topeng. Tapi entah mengapa, topeng itu membuat bulu kuduknya merinding.

“Maafkan saya kalau sudah lancang. Tapi, topeng ini bukan bermaksud untuk menakuti.” Seperti tahu ketakutan Ompung, Umpu Rayo memberikan penjelasan. “Topeng ini adalah jawaban dari pertanyaan Anda beberapa minggu yang lalu, ketika kita bertiga berkuda di padang rumput, dekat hutan.”

Mendengar penjelasan itu, Ompung menjadi tertarik. “Apa maksudmu, Rayo? Coba jelaskan.”

Ternyata, Umpu Rayo yang memang terkenal punya kekuatan sihir, sengaja membuat topeng itu untuk mencegah agar mimpi buruk Ompung tidak terjadi. Topeng Tupping hanyalah sebuah topeng biasa bagi mereka yang masih mengingat leluhurnya. Sedangkan bagi yang sengaja lupa atau tidak mau mengingat, Topeng Tupping adalah mimpi buruk yang akan memaksa pemakainya untuk mengingat masa yang telah lampau, mengingat leluhurnya. Ia akan mencoba masuk ke dalam pikiran Sang Pemakai, merasukinya, menjejalkan riwayat leluhur ke dalam otaknya, sedikit demi sedikit. Sekali Topeng Tupping memilih, maka Sang Pemakai tak akan bisa melepaskan topeng itu dari wajahnya sampai benar-benar sadar kalau ia telah lalai. Atau jika tidak, Topeng Tupping baru akan terlepas setelah mantranya dibacakan.

“Yang lupa asal,
yang hidup tanpa wajah.
Yang lupa usul,
yang hidup tanpa nama.

Asal usul
cikal bakal,
lupa leluhur
akhir riwayat.”

Begitu Umpu Rayo selesai membaca mantra, sekilas, Ompung melihat kalau lubang mata yang bolong pada topeng itu mengeluarkan sinar yang berpendar. Ia bergidik. Atas permintaan Umpu Rayo juga—yang menawarkan diri untuk menjadi penjaga topeng itu sampai akhir jaman—Topeng Tupping tidak disimpan di istana, melainkan di salah satu lubang pohon yang dipilih oleh Umpu Rayo secara gaib.

Jogjakarta, 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: