01. Luka Sangkuriang

“Anak anjing…. Anak anjing.…”

Ledekan itu walaupun keluar dari mulut kanak-kanak, pasti akan menyakitkan hati siapa saja. Apalagi bagi seorang bocah kecil yang selalu ditemani anjing kesayangannya. Karena kebiasaan itu pula, sebuah kasak-kusuk berkembang. Seperti sebuah legenda yang terhambur kembali dari buku-buku legenda yang telah rapuh digerogoti rayap.

Suatu pagi yang cerah, ketika seorang perempuan jelita sedang asyik menjahit, tiba-tiba mesin jahitnya rusak. Kalau hanya sekedar jarum patah atau benang kusut, ia pasti bisa memperbaikinya. Tapi memperbaiki mesin jahit yang rusak masih asing baginya. Sementara banyak pesanan yang harus segera diselesaikan. Di tengah kepanikan perempuan jelita itu berucap laksana sayembara jaman raja-raja.

“Barang siapa yang bisa memperbaiki mesin jahit ini, apabila dia wanita maka dia akan menjadi adikku, sedangkan apabila dia laki – laki maka dia akan menjadi suamiku.”

Gumam itu memang begitu lirih, tapi alam semesta terlanjur mendengarnya. Dan begitu terkejutnya perempuan itu ketika tiba-tiba seekor anjing jantan melompat ke atas meja dan entah dengan sihir apa, tiba-tiba mesin jahit itu berfungsi kembali. Dengan kegalauan hati, mau tak mau ia pun menikah dengan anjing hitam yang kemudian diberi nama si Tumang.

Mereka berumah tangga hingga dikaruniai seorang anak. Siapa lagi kalau bukan bocah kecil yang tumbuh ditemani seekor anjing yang kemudian diduga sebagai ayahnya. Begitulah awal mula bagaimana teman-teman bocah kecil itu meledeknya sebagai anak anjing.

Lama kelamaan, jiwanya berontak. Hati siapa pun pasti tidak akan terima kalau semua orang mengatakan bahwa ayahnya tak lebih dari binatang berkaki empat yang suka menggaruk-garuk kelamin. Tak ada jalan lain yang berkelebat dalam benaknya kecuali menyingkirkan sumber dari kabar burung itu.

Pada sebuah kesempatan, tubuh si Tumang yang terlelap berpindah ke dalam karung. Kekesalan bocah kecil itu dilampiaskannya dengan pukulan tongkat bertubi-tubi. Jeritan Si Tumang tidak dihiraukannya. Akhirnya jasad Si Tumang diseretnya tertatih-tatih menyusuri jalan setapak dan kemudian diceburkannya ke dalam sungai yang mengalir deras.

Dan di sinilah awal sebuah luka.

Ternyata pembunuhan anjing itu diketahui oleh salah satu tetangga yang kemudian melaporkan pada ibunya. Dalam sebuah kemarahan yang memuncak, Sang Ibu memukul kepala anaknya dengan tongkat. Darah bercucuran di kepalanya. Bukan hanya kepala, jiwa bocah itu pun terluka.

“Bocah kurang ajar… Kamu telah membunuh ayahmu sendiri.“

Bocah minggat sambil membawa luka yang memenuhi jiwanya. Kepalanya retak, ingatannya retak. Tubuhnya terlunta-lunta menaiki kereta, pasrah menapaki jalan hidupnya. Hingga pada sebuah fajar, mata polosnya menatap gemerlap kota. Orang menyebut kota yang tak pernah tidur itu sebagai Jakarta. Bocah itu bangun dengan kesadaran baru dan tumbuh sebagai seorang pemuda bernama Fajar Kelana.
— oOo —

Sekarang luka itu mengangga lagi.

Dalam pengembaraannya Fajar Kelana bertemu dengan Dayang Sumbi, seorang wanita yang begitu mempesona. Singkat kata, mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Ketika sedang membelai-belai rambut kekasihnya,  Dayang Sumbi melihat ada luka yang tak asing di kepala Fajar Kelana. Luka itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah hadir di masa lalunya. Langit kesadarannya tersentak.

“Kamu… kamu adalah Sangkuriang yang sudah lama aku cari. Sangkuriang anakku….”

“Tidak… tidak mungkin… Aku adalah Fajar Kelana,” kata Sangkuriang sambil menggebrak meja.

”Ya, kamu adalah Sangkuriang. Luka di kepalamu itu adalah pukulan tongkat yang kuayunkan setelah aku tahu bahwa kamu telah membunuh seekor anjing, yang tak lain adalah bapakmu sendiri.”

Kejadian berpuluh tahun lalu itu tiba-tiba berkelebat dalam benak Fajar Kelana. Luka yang membuat ia minggat. Luka itu kini kembali menganga. Benarkah wanita yang sudah sekian lama hanyut dalam pelukannya tak lain adalah ibunya sendiri

”Tidak… Kau bukan ibuku!”

Tidak mungkin seorang ibu hanya mengenali anaknya dari sebuah luka. Ketika dekat dengan Dayang Sumbi, tak ada getaran yang mengisyaratkan bahwa ia adalah seseorang yang pernah mengisi kehidupannya.

“Tidak… tidak mungkin…. Kalau kamu memang Ibuku, pasti hati kecilku akan mengenalimu.”

Aku mencintai orang yang pernah menyusuiku. Tidak. Tidak mungkin. Ibuku pasti sudah tua. Masih terbayang gurat-gurat wajahnya. Tidak. Tidak mungkin. Pasti ini sebuah kesalahan. Pasti ini penolakan halus cara perempuan.

”Apakah ada pria lain yang tidak suka kehadiranku?” tanya Fajar Kelana dengan penuh selidik.

”Tidak… Sangkuriang. Seandainya luka itu kuketahui lebih awal, pasti aku tidak akan jatuh hati. Bagaimanapun juga, hubungan ini harus segera kita hentikan.”

Ada banyak luka yang sama di tubuh kanak-kanak. Ada banyak kekerasan orang tua terhadap anaknya yang berakhir dengan luka tubuh luka jiwa. Apakah memang begitu seorang ibu menandai anaknya. Hati Fajar kelana tersayat-sayat pedih.

“Mengapa aku dulu tidak memukul Ibuku, agar sebuah luka bisa menjadi tanda.”
— oOo —

Dayang Sumbi begitu yakin bahwa pemuda yang dicintainya itu adalah Sangkuriang, anaknya yang lama menghilang. Begitu Sangkuriang minggat, Dayang Sumbi merasa sangat menyesal dan begitu kehilangan. Lantas ia mencari Sangkuriang hingga terdampar juga di pinggiran Jakarta.

Sambil terus mencari anaknya, untuk menopang kehidupannya di metropolitan, Dayang Sumbi membuka usaha jahit-menjahit. Usaha yang dirintisnya ternyata berkembang pesat, dalam hitungan tahun Dayang Sumbi sudah mempunyai pabrik konveksi dengan beratus-ratus pekerja.

Sebagai pengusaha baru, Dayang Sumbi pun memperluas pergaulannya dan merombak penampilannya. Harum mewangi selalu menyertai langkahnya. Beberapa bagian wajahnya kemudian dioperasi plastik agar kecantikannya menjadi lebih sempurna. Dayang Sumbi tampak begitu anggun, cantik dan lebih muda dari usia sebenarnya.

Begitulah sampai pada sebuah senja, hatinya bergetar ketika bertatapan dengan seorang pemuda yang baru saja di kenalnya di sebuah arisan ibu-ibu pengusaha. Cinta itupun kemudian bersemi. Dayang Sumbi merasakan gelora gairah sudah lama tak dirasakannya. Tapi sebuah kenyataan pahit menghempaskan mimpi-mimpinya.
— oOo —

Seorang anak menikahi ibunya sendiri?

Begitulah, Dayang Sumbi terus memikirkan Sangkuriang. Pemuda itu tetap kukuh dengan pendiriannya. Mengapa luka di kepala itu terkuak ketika cinta itu menggelepar dalam dadanya. Tapi bagaimanapun juga, naluri seorang Ibu menuntunnya untuk segera mengambil keputusan. Buku perjalananpun kembali dibuka.

”Kalau begitu kamu harus membuatkan aku sebuah danau di ujung desa lengkap dengan sebuah perahu dalam waktu satu malam. Semua itu harus sudah siap sebelum ayam jantan berkokok. Kalau gagal, kamu tidak berhak menikahi aku”

Di mata Fajar kelana, permintaan Dayang Sumbi itu tak lebih sebuah penolakan halus yang merobek jalinan cinta dan rencana menikah yang telah disepakati bersama. Seperti legenda-legenda yang sudah sering dibacanya, mana mungkin sebuah danau dan perahu bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu malam.

Tapi cinta yang membara dalam dada Fajar Kelana tidak mudah dipatahkan. Ia menyanggupi syarat yang diajukan Dayang Sumbi dengan penuh keyakinan. Tak ada yang tak mungkin di Jakarta.

Maka Fajar Kelana mengerahkan segala kemampuannya. Berbagai jin dan makhluk halus dikumpulkannya untuk membantunya menyelesaikan tugas. Bergaul dengan makhluk-makhluk dari dunia lain itu sudah tak asing bagi Fajar Kelana yang selama ini akrab dengan dunia malam. Pergaulan itu pula yang membuat Fajar Kelana bisa bertahan di Jakarta.

Fajar Kelana tersenyum puas dengan rencana yang telah disusunnya. Kali ini, malam sepertinya akan berpihak pada dirinya.
— oOo —

Pada sebuah senja, di hari yang telah ditentukan, Fajar Kelana mulai mengerjakan syarat yang diminta oleh Dayang Sumbi. Segala daya dan kekuatannya dikerahkan untuk membangun danau dan sebuah kapal. Makhluk-makhluk dari dunia lain bergerak mematuhi perintahnya. Tak ada yang bisa melihat sebuah hiruk pikuk sebagaimana sebuah proyek dilaksanakan, tapi lambat-laun tanah lapang itu menganga menjadi sebuah ceruk.

Sementara itu di dalam tanah, ada yang bergerilya menggali gorong-gorong, hingga air sungai tak jauh dari tempat itu mengalir memenuhi ceruk, membentuk sebuah danau yang akan membuat siapa saja terngangga.

Pada saat yang bersamaan, beribu jin mulai menebangi pohon dari atas bukit. Melalui aliran sungai, gelondongan- gelondongan kayu melesat secepat kilat dengan dikemudikan oleh makhluk-makluk kerdil. Sesampainya di dekat danau, kapak-kapak tajam di tangan makhluk yang tak kalah anehnya akan segera membuat gelondongan itu menjadi balok dan papan. Sebuah rangka kapal dalam sekejap terbentuk.

Tahap demi tahap perkembangan pekerjaan Fajar Kelana dilaporkan Ngatini, pembantu setia Dayang Sumbi yang bertugas untuk memantau semuanya. Dayang Sumbi mulai cemas tiap kali mendengar laporan pandangan mata dari pembantunya.

”Kekuatan apa yang dimiliki oleh Sangkuriang?”

”Saya tidak tahu, Bu. Yang jelas ada kekuatan lain yang tak tampak oleh penglihatan saya.”

”Menurutmu bagaimana Mbok. Tak mungkin aku menikahi anakku sendiri. Bukan hanya kota, bangsa ini pun akan mendapatkan kutukan”

”Sepertinya Ibu harus melakukan hal yang sama seperti pada legenda-legenda. Seperti ketika Roro Jonggrang mengagalkan pembangunan seribu candi yang dikerjakan Bandung Bondowoso. Jika ayam jantan segera berkokok, berarti Sangkuriang telah gagal”

”Betul Mbok, aku harus segera mendatangkan pagi.”

Maka seperti legenda-legenda sebelumnya, hanya pagilah yang bisa menghentikan Sangkuriang. Maka, diperintahkannya Ngatini untuk mengeluarkan semua ayam jantan di dalam kandang agar gaduh dan segera berkokok. Bahkan kalau perlu seluruh ayam jantan di kampung itu segera dibangunkan.

“Kalau perlu, kamu bisa minta bantuan Ketua RT dan seluruh warga,” kata Dayang Sumbi sambil menyerahkan segepok uang. ”Kasih saja mereka uang rokok.”

Dayang Sumbi tersenyum lega ketika melihat tubuh gemuk pembantunya tergopoh-gopoh lari menuju pintu belakang. Sebentar lagi Sangkuriang akan menangisi kekalahannya.

Tapi kegundahan tiba-tiba menyergapnya. Kokok kemenangan itu tak juga didengarnya. Tak ada kokok ayam jantan berarti tak ada pagi. Malam dirasakannya bertambah panjang. Ada apa ini?

Sementara itu, Fajar Kelana mulai menyunggingkan senyumnya. Danau sudah siap. Kapal sebentar lagi rapi dan bisa dilarung ke dalamnya. Layar kemenangan sudah akan mengembang. Tak lama lagi. Dan malam sepertinya enggan beranjak menuju pagi.

Ngatini berjalan tergesa diiringi Ketua RT dan beberapa penduduk kampung yang sedang meronda. Dayang Sumbi menyambutnya dengan kecemasan yang amat dalam.

“Mengapa belum kudengar juga kokok ayam Jantan, Mbok?”

Ngatini dan Ketua RT saling berpandangan. Mereka berdua mengalami kecemasan yang sama.

“Maaf, hamba tidak menemukan ayam satupun,” kata Ngatini terbata-bata.

”Bagaimana mungkin. Pasti ini pekerjaan Sangkuriang. Pasti dialah yang telah menyingkirkan ayam-ayam itu,” kata Dayang Sumbi sambil mengepalkan tangannya. Bukan tak mungkin taktik lama yang turun temurun itu sudah diantisipasi secara cerdik oleh Sangkuriang.

”Bukan… Bukan. Ini bukan ulah Sangkuriang. Apakah Ibu Dayang Sumbi lupa bahwa setelah merebaknya wabah flu burung yang mematikan itu, semua ayam-ayam di kota ini memang sudah dimusnahkan.”

”Tidak… tidak…. ini tidak boleh terjadi. Sangkuriang tidak akan pernah menikahi Ibunya”

Tubuh Dayang Sumbi terkulai lemah. Otaknya berputar cepat, memikirkan bagaimana cara tercepat untuk memanggil fajar. Dalam kegalauan, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.
— oOo —

Depok, 22 Januari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: